Ah, aku sengaja melakukannya. Kupikir semakin terasa berat akan semakin banyak kemudahan nantinya. Kupikir hal-hal berat yang aku lakukan sekarang seperti menabung untuk kehidupanku selanjutnya.
Ah, aku munafik lagi. Aku tak menyukai mereka, bahkan mereka hanya berteriak menjelaskan bahwa aku salah. Tapi di depan mereka aku hanya senyum berharap bisa ku sembunyikan umpatan untuk mereka di pikiranku.
Ah, aku merasa di ujung. Aku harus cari pekerjaan baru. Setidaknya pekerjaan yang tidak membuatku terus-terusan menangis. Keterlaluan, aku bahkan tak pernah sedikitpun meninggalkan tanggung jawab. Aku bahkan terlalu takut dianggap tak becus kerja, menyusahkan orang lain. Aku tak suka minta bantuan orang lain, kupikir semuanya akan sempurna jika ku kerjakan, dan aku tak akan butuh waktu lama.
Ah, aku memaksa diri lagi. Mata ini sudah terlalu hitam. Bibir ini sudah terlalu kering. Tak seharusnya aku melakukannya semuanya sendiri. Bahkan dia dengan berteriak mengatakan jangan sok jadi superman, yang kemudian membuat hatiku meluap dan tak menghiraukan omongannya.
Ah, kau tau? Diteriaki didepan orang yang menjadi penyemangat mu? Aku melakukan sebaik mungkin untuk tidak mendapat teriakan itu. Tapi alasan ku selalu tak masuk akal bagi dia. Meneriakiku dengan semakin mempertegas kesalahanku. Bukankah hal baik aku mengaku kesalahanku? yang lain bahkan saling menuding, kupikir mereka hanya membuat masalah. Dan aku bahkan tak ingin yang lain saling menuding, sehingga kupikir akan kuselesaikan saja sendiri. Tapi bagimu itu menyebalkan kan? Sehingga kau teriak seperti itu? aku sudah mengumpat untuk perlakuanmu itu, yah hal buruk pada keluarga mu.
Ah, penyakit hati ku ini semakin parah. Seharusnya kita saling bantu. Aku harusnya senang kau bisa membantu, seharusnya aku senang karena tidak terlalu banyak masalah yang menimpa mu. Dan seharusnya aku menyatakan diri untuk bergabung ketika kalian merencanakan bepergian tanpa mengajakku. Aku berharap, kau jangan baik-baik saja. Aku berharap, selalu ada masalah yang merisaukan otak mu itu. Aku berharap, kau merasa lebih lelah dari aku untuk apapun. Termasuk lelahku dalam membencimu. Kuharap kau membenciku, lebih besar, agar aku tak sendirian bersalah.
Ah, kuharap aku menemukan ketenanganku dalam tidur, dan bangun di pagi hari dengan semangat baru, dan manusia dengan hati baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar